Ketika Suami Menjadi Anak yang Berbakti dan Ayah yang Baik, Tetapi Melupakan Istrinya
Allah SWT berfirman:
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang."
(QS. Ar-Rum: 21)
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap keluargaku."
(HR. Tirmidzi)
Ayat dan hadis di atas mengingatkan bahwa tujuan pernikahan dalam Islam bukan sekadar membangun rumah, menghasilkan keturunan, atau memenuhi kebutuhan materi. Pernikahan adalah ikatan yang dibangun di atas ketenteraman (sakinah), cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah). Karena itu, ukuran keberhasilan seorang suami tidak hanya dilihat dari seberapa besar penghasilannya atau seberapa tinggi kedudukannya, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan istrinya.
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit ditemukan sosok suami yang dikenal sangat baik kepada orang tuanya. Ia berbakti, menghormati, dan selalu berusaha membahagiakan ayah ibunya. Ia juga tampak bertanggung jawab kepada anak-anaknya, bekerja keras demi pendidikan dan masa depan mereka. Semua orang memujinya sebagai anak saleh dan ayah yang baik.
Namun, di balik semua itu, ada satu orang yang justru sering terlupakan: istrinya.
Istri yang setiap hari tinggal bersamanya, yang telah mengandung anak-anaknya, melahirkan, menyusui, merawat rumah, dan mendampingi perjuangan hidupnya. Ironisnya, kepada orang lain ia bisa ramah dan perhatian, tetapi kepada istrinya sendiri hampir tidak pernah bertanya, "Bagaimana kabarmu hari ini?" atau "Apakah ada yang membuatmu sedih?"
Komunikasi hanya terjadi jika ada urusan rumah tangga atau kebutuhan anak. Tidak ada percakapan hangat, tidak ada perhatian terhadap kondisi emosional pasangan, bahkan terkadang berhari-hari berlalu tanpa adanya dialog yang bermakna. Kehadiran fisik ada, tetapi kehadiran hati terasa hilang.
Sebagian suami menganggap dirinya telah menjalankan seluruh kewajiban karena sudah memberikan nafkah, menyediakan tempat tinggal, dan memenuhi kebutuhan materi keluarga. Ketika istrinya merasa kesepian atau mengeluhkan kurangnya perhatian, yang muncul justru penilaian bahwa istrinya kurang bersyukur, terlalu banyak menuntut, kurang sabar, atau bahkan kurang iman.
Padahal kebutuhan akan perhatian, komunikasi, dan kasih sayang bukanlah tanda lemahnya iman. Itu adalah fitrah manusia yang Allah ciptakan. Bahkan tujuan pernikahan yang disebutkan dalam Al-Qur'an adalah agar pasangan memperoleh ketenteraman dan kasih sayang, bukan sekadar terpenuhinya kebutuhan ekonomi.
Sering kali seorang suami berkata dalam hatinya, "Bukankah aku sudah bekerja keras? Bukankah aku sudah memberikan nafkah? Bukankah aku tidak meninggalkan keluarga?" Namun ia lupa bahwa seorang istri tidak hanya membutuhkan uang untuk hidup. Ia juga membutuhkan penghargaan, dukungan emosional, dan perasaan bahwa dirinya penting di mata suaminya.
Lebih menyedihkan lagi ketika seorang istri yang mengungkapkan kesedihannya justru diberi label "kurang bersyukur". Seolah-olah semua pengorbanan yang telah ia lakukan selama bertahun-tahun tidak memiliki nilai. Padahal bisa jadi ia telah mengorbankan waktu, tenaga, kesehatan, bahkan impian pribadinya demi keluarga dan anak-anak.
Yang perlu dipahami, bersyukur tidak berarti mengabaikan kebutuhan yang Allah tanamkan dalam diri manusia. Seorang istri bisa bersyukur atas nafkah yang diberikan suaminya, namun tetap berharap mendapatkan haknya untuk dicintai, dihargai, dan diperhatikan.
Ironisnya, sebagian suami sangat berharap anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan berakhlak mulia. Namun ia lupa bahwa anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Mereka menyaksikan bagaimana ayah memperlakukan ibu mereka. Mereka belajar tentang cinta, penghormatan, dan hubungan suami istri dari rumah mereka sendiri.
Ketika seorang anak melihat ibunya terus-menerus diabaikan, ia sedang menerima pesan bahwa kebutuhan emosional seorang istri tidak penting. Anak laki-laki mungkin tumbuh meniru sikap ayahnya. Anak perempuan mungkin tumbuh dengan keyakinan bahwa diabaikan dalam pernikahan adalah sesuatu yang normal.
Padahal Islam tidak pernah mengajarkan kepemimpinan yang kering dari kasih sayang. Konsep qawwam bukanlah hak untuk ditaati tanpa batas, melainkan amanah untuk menjaga, membimbing, melindungi, dan memperhatikan seluruh anggota keluarga.
Rasulullah ﷺ tidak hanya menjadi pemimpin umat, tetapi juga suami yang hadir untuk keluarganya. Beliau mendengarkan, bercanda, membantu pekerjaan rumah, dan memahami perasaan istri-istrinya. Inilah teladan kepemimpinan yang menghadirkan cinta, bukan sekadar kewibawaan.
Pada akhirnya, rumah tangga tidak hanya membutuhkan seseorang yang menyediakan kehidupan, tetapi juga seseorang yang menghadirkan kehidupan di dalam rumah itu. Nafkah memang penting, tetapi kasih sayang tidak kalah penting. Status sebagai suami memang mulia, tetapi kemuliaan itu akan semakin sempurna ketika disertai kelembutan hati kepada istri.
Karena sesungguhnya, di balik anak-anak yang tumbuh bahagia dan keluarga yang harmonis, sering kali terdapat seorang ibu yang merasa dicintai, dihargai, didengarkan, dan dimuliakan oleh suaminya. Dan itulah salah satu wujud nyata dari sakinah, mawaddah, dan rahmah yang Allah janjikan dalam pernikahan. 🌷
Komentar
Posting Komentar