Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Meluruskan Niat di Tengah Pengaruh Sistem Sekuler Kapitalis

Meluruskan Niat di Tengah Pengaruh Sistem Sekuler Kapitalis Abstrak Artikel ini mengkaji konsep meluruskan niat dalam Islam serta tantangan yang dihadirkan oleh sistem sekuler kapitalis terhadap orientasi niat individu dan kolektif umat. Sistem sekuler kapitalis tidak hanya membentuk struktur ekonomi dan politik, tetapi juga memengaruhi cara pandang manusia terhadap tujuan hidup, makna kesuksesan, dan standar nilai. Dengan pendekatan normatif-analitis dan kajian konseptual, artikel ini menunjukkan bahwa dominasi nilai-nilai kapitalistik berpotensi menggeser niat dari orientasi ibadah kepada orientasi materialistik dan utilitarian. Artikel ini menegaskan urgensi pelurusan niat sebagai fondasi perbaikan individu dan masyarakat, serta pentingnya kesadaran ideologis Islam dalam menghadapi hegemoni sistem sekuler kapitalis. Kata kunci: niat, sekularisme, kapitalisme, ideologi Islam, orientasi hidup. Pendahuluan Niat merupakan inti dari setiap amal dalam Islam. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa ...

Bertaubat dari Riba: Melawan Jerat Kapitalisme Sekuler

Bertaubat dari Riba: Melawan Jerat Kapitalisme Sekuler Oleh: Nurul Maharani Riba kerap dipersepsikan sebagai kesalahan individu: kurang iman, kurang ilmu, atau lemah kontrol diri. Padahal, realitasnya jauh lebih kompleks. Di era modern, riba bukan hanya praktik ekonomi personal, melainkan produk sistemik dari kapitalisme sekuler yang menjadikan bunga sebagai tulang punggung ekonomi. Islam secara tegas mengharamkan riba. “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS. Al-Baqarah: 275). Bahkan, Allah dan Rasul-Nya menyatakan perang terhadap pelaku riba yang enggan berhenti (QS. Al-Baqarah: 279). Namun, di bawah sistem ekonomi kapitalisme sekuler, riba justru dinormalisasi, dilegalkan, dan dipromosikan sebagai keniscayaan pembangunan. Kapitalisme Sekuler dan Normalisasi Riba Kapitalisme sekuler memisahkan agama dari pengaturan ekonomi. Nilai halal-haram dikeluarkan dari ruang publik, digantikan oleh asas untung-rugi dan pertumbuhan tanpa batas. Dalam sistem ini, uang diperlakuka...

bagaimana cara mengenal diri?

Pentingnya Mengenal Diri dan Bagaimana Cara Mengenalnya Mengenal diri adalah proses memahami siapa kita, apa potensi yang Allah titipkan, serta bagaimana peran terbaik yang bisa kita jalani dalam hidup. Tanpa mengenal diri, seseorang mudah lelah, bingung arah, dan merasa hidupnya tidak bermakna meski terlihat sibuk. Mengapa Mengenal Diri Itu Penting? 1. Menentukan arah hidup Orang yang mengenal dirinya tahu ke mana ia melangkah. Keputusan hidup—pendidikan, pekerjaan, peran keluarga—tidak diambil asal, tapi selaras dengan nilai dan tujuan. 2. Mengoptimalkan potensi Setiap manusia diciptakan unik. Ketika potensi dikenali, energi hidup tidak habis untuk meniru orang lain, tetapi fokus pada keunggulan yang dimiliki. 3. Menjaga kesehatan mental dan emosi Mengenal diri membuat kita lebih menerima diri sendiri, tidak mudah membandingkan, dan lebih bijak menyikapi kegagalan. 4. Memperbaiki hubungan dengan orang lain Orang yang paham dirinya cenderung lebih empatik dan tidak memaksakan kehendak...

berdamai dengan diri dan keadaan

Ada fase dalam hidup ketika lelah bukan lagi soal fisik, tetapi soal hati yang terlalu lama menahan. Menahan ekspektasi. Menahan perbandingan. Menahan rasa “seharusnya aku bisa lebih”. Di titik itu, saya belajar satu hal yang tidak mudah: berdamai dengan diri sendiri dan semua keadaan. Berdamai dengan Diri Bukan Berarti Menyerah Banyak orang salah paham. Berdamai sering disangka kalah, pasrah, atau berhenti berjuang. Padahal tidak. Berdamai adalah berhenti memukul diri sendiri atas hal-hal yang memang berada di luar kendali. Berdamai adalah mengakui bahwa kita manusia — terbatas, lelah, dan tidak selalu ideal. Saya tetap berusaha. Saya tetap belajar. Saya tetap berjalan. Tapi tanpa membenci diri sendiri di setiap langkah. Berdamai dengan Jalan Hidup yang Tidak Sama Ada orang yang jalannya cepat. Ada yang penuh sorotan. Ada yang terlihat “lebih berhasil”. Dulu saya sering bertanya dalam hati: “Kenapa bukan aku?” “Kenapa jalanku terasa lebih pelan?” Sampai akhirnya saya sadar: hidup buka...

Tetap Semangat

Ada hari-hari ketika semangat mengajar bukan datang dari rasa senang, melainkan dari kesadaran bahwa ini adalah amanah yang harus ditunaikan. Aku berada di fase hidup di mana banyak hal ingin diperjuangkan. Banyak kegelisahan tentang umat, pendidikan, dan masa depan. Namun Allah belum menempatkanku di semua medan itu. Hari ini, Allah menempatkanku di ruang kelas. Di sanalah aku belajar tentang ikhlas. Bahwa bekerja tidak selalu disertai tepuk tangan. Bahwa mengajar tidak selalu langsung terlihat hasilnya. Bahwa niat sering diuji justru saat lelah, jenuh, dan merasa “apakah ini berarti?” Ikhlas ternyata bukan perasaan yang datang sekali lalu selesai. Ia adalah niat yang terus diperbarui. Setiap kali melangkah ke kelas, aku belajar berkata dalam hati: “Ya Allah, aku lakukan ini karena-Mu. Terimalah meski sedikit.” Lalu datang pelajaran berikutnya: sabar. Sabar menghadapi mahasiswa dengan berbagai karakter. Sabar menghadapi sistem yang tidak selalu ideal. Sabar pada diri sendiri yang kada...