berdamai dengan diri dan keadaan
Ada fase dalam hidup ketika lelah bukan lagi soal fisik,
tetapi soal hati yang terlalu lama menahan.
Menahan ekspektasi.
Menahan perbandingan.
Menahan rasa “seharusnya aku bisa lebih”.
Di titik itu, saya belajar satu hal yang tidak mudah: berdamai dengan diri sendiri dan semua keadaan.
Berdamai dengan Diri Bukan Berarti Menyerah
Banyak orang salah paham.
Berdamai sering disangka kalah, pasrah, atau berhenti berjuang.
Padahal tidak.
Berdamai adalah berhenti memukul diri sendiri atas hal-hal yang memang berada di luar kendali.
Berdamai adalah mengakui bahwa kita manusia — terbatas, lelah, dan tidak selalu ideal.
Saya tetap berusaha.
Saya tetap belajar.
Saya tetap berjalan.
Tapi tanpa membenci diri sendiri di setiap langkah.
Berdamai dengan Jalan Hidup yang Tidak Sama
Ada orang yang jalannya cepat.
Ada yang penuh sorotan.
Ada yang terlihat “lebih berhasil”.
Dulu saya sering bertanya dalam hati: “Kenapa bukan aku?”
“Kenapa jalanku terasa lebih pelan?”
Sampai akhirnya saya sadar:
hidup bukan lomba lari dengan garis akhir yang sama.
Setiap orang punya medan, beban, dan amanah yang berbeda.
Membandingkan diri hanya akan melelahkan hati dan mematikan syukur.
Berdamai dengan Peran yang Tidak Ringan
Menjadi pendidik.
Menjadi orang tua.
Menjadi pasangan.
Menjadi diri sendiri.
Semua peran itu berjalan bersamaan, sering kali tanpa jeda.
Ada hari ketika semuanya terasa terlalu banyak.
Ada hari ketika ingin berhenti sejenak, tapi dunia tidak memberi tombol jeda.
Di situlah saya belajar berkata pada diri sendiri:
“Kamu sudah cukup berusaha hari ini.”
Dan itu bukan kemalasan — itu kasih sayang pada diri sendiri.
Berdamai dengan Hasil yang Tidak Selalu Sesuai Harapan
Tidak semua niat baik langsung berbuah.
Tidak semua kerja keras langsung terlihat hasilnya.
Tidak semua kejujuran dihargai cepat.
Dulu ini membuat saya kecewa.
Sekarang, saya mencoba melihatnya sebagai latihan keikhlasan.
Karena mungkin:
Allah sedang menjaga hati saya
Allah sedang membersihkan niat
Allah sedang menunda, bukan menolak
Dan tugas saya hanya satu: tetap lurus, meski pelan.
Berdamai dengan Hari Ini
Berdamai itu tidak selalu besar.
Kadang sesederhana:
Menerima bahwa hari ini lelah
Mengizinkan diri untuk tidak sempurna
Tidak memaksa diri selalu kuat
Berdamai adalah mengatakan:
“Aku menerima diriku hari ini, dengan segala kurang dan lebihnya.”
Penutup
Berdamai dengan diri dan semua keadaan bukan tujuan akhir.
Ia adalah proses yang terus diulang, setiap kali hati ingin memberontak.
Dan mungkin, justru di situlah ketenangan lahir —
bukan karena hidup menjadi mudah,
tetapi karena hati berhenti melawan kenyataan.
Semoga kita semua diberi kemampuan untuk:
✨ menerima tanpa menyerah
✨ tenang tanpa putus asa
✨ dan berjalan tanpa membenci diri sendiri
Komentar
Posting Komentar