Tetap Semangat
Ada hari-hari ketika semangat mengajar bukan datang dari rasa senang,
melainkan dari kesadaran bahwa ini adalah amanah yang harus ditunaikan.
Aku berada di fase hidup di mana banyak hal ingin diperjuangkan.
Banyak kegelisahan tentang umat, pendidikan, dan masa depan.
Namun Allah belum menempatkanku di semua medan itu.
Hari ini, Allah menempatkanku di ruang kelas.
Di sanalah aku belajar tentang ikhlas.
Bahwa bekerja tidak selalu disertai tepuk tangan.
Bahwa mengajar tidak selalu langsung terlihat hasilnya.
Bahwa niat sering diuji justru saat lelah, jenuh, dan merasa “apakah ini berarti?”
Ikhlas ternyata bukan perasaan yang datang sekali lalu selesai.
Ia adalah niat yang terus diperbarui.
Setiap kali melangkah ke kelas, aku belajar berkata dalam hati:
“Ya Allah, aku lakukan ini karena-Mu. Terimalah meski sedikit.”
Lalu datang pelajaran berikutnya: sabar.
Sabar menghadapi mahasiswa dengan berbagai karakter.
Sabar menghadapi sistem yang tidak selalu ideal.
Sabar pada diri sendiri yang kadang merasa belum maksimal.
Allah berfirman:
“Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Anfal: 46)
Ayat ini membuatku paham:
sabar bukan tanda kalah,
tapi tanda bertahan di jalan yang benar.
Mengajar hari ini mungkin bukan mimpi terbesarku,
tetapi ia adalah tugas paling nyata yang Allah titipkan sekarang.
Dan di situlah nilai ibadahnya.
Aku belajar bahwa tidak semua kebaikan harus besar dan terlihat.
Sebagian justru tersembunyi, berulang, dan sunyi—
namun dicatat Allah dengan penuh keadilan.
Maka aku memilih untuk tetap semangat mengajar.
Dengan ikhlas yang terus dilatih.
Dengan sabar yang terus dipanjatkan dalam doa.
Karena boleh jadi,
kesetiaan pada amanah kecil yang dijalani dengan ikhlas dan sabar
lebih berat timbangannya
daripada cita-cita besar yang belum sempat ditunaikan.
Komentar
Posting Komentar