Ketika Hidup Terasa Penuh Tuntutan: Belajar Kembali Mencari Ridha Allah


Ada masa dalam hidup ketika kita merasa semua orang memiliki harapan kepada kita.

Sebagai seorang ibu, kita ingin anak-anak tumbuh sehat, bahagia, dan menjadi pribadi yang saleh. Sebagai istri, kita ingin menjadi pendamping yang menguatkan suami. Sebagai anak, kita ingin membahagiakan orang tua. Sebagai pekerja, kita ingin menjalankan amanah dengan baik. Di tengah semua itu, kita juga memiliki cita-cita dan panggilan hidup yang ingin diwujudkan.

Lalu, ketika ada satu komentar yang terdengar sederhana, seperti, "Jangan dipaksa masuk pesantren, badannya kurus," hati tiba-tiba terasa sesak. Bukan semata karena kalimat itu, tetapi karena kita merasa semua usaha yang telah dilakukan seolah tidak terlihat.

Padahal, tidak semua kritik berarti kita telah gagal. Terkadang, itu hanya menunjukkan bahwa setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda. Orang tua sering kali berbicara dari rasa sayang dan kekhawatiran. Suami berbicara dari beban tanggung jawab yang dipikulnya. Anak-anak memiliki kebutuhan mereka sendiri. Semua itu tidak selalu berarti kita telah melakukan kesalahan.

Yang perlu kita tanyakan bukanlah, "Bagaimana agar semua orang puas?" Sebab, hal itu mustahil.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Apakah aku sudah berusaha menjalankan amanah ini karena Allah?"

Allah berfirman:

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
(QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini mengingatkan bahwa Allah mengetahui batas kemampuan setiap hamba-Nya. Jika hari ini kita merasa lelah, bukan berarti iman kita lemah. Bisa jadi kita sedang memikul banyak amanah sekaligus.

Sebagai seorang ibu, kita tidak harus menjadi sempurna. Kita cukup menjadi ibu yang terus belajar, mencintai, mendoakan, dan berusaha memberikan yang terbaik sesuai kemampuan.

Sebagai seorang anak, kita tetap menjaga adab kepada orang tua, meskipun terkadang keputusan hidup kita berbeda dengan pendapat mereka.

Sebagai seorang istri, kita mendampingi suami dengan kasih sayang, bukan dengan memikul seluruh beban seorang diri.

Dan sebagai hamba Allah, kita belajar bahwa tujuan hidup bukanlah memenuhi seluruh ekspektasi manusia, melainkan mengharap ridha Allah.

Ketika hati mulai lelah, jangan hanya bertanya kepada diri sendiri, "Apa lagi yang harus kulakukan?"

Tetapi berdoalah:

"Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, kuatkanlah aku menjalankan amanah yang Engkau titipkan, dan jangan jadikan aku hidup hanya untuk memenuhi harapan manusia. Jadikan aku hidup untuk mencari ridha-Mu."

Pada akhirnya, kita akan menyadari bahwa ketenangan tidak lahir ketika semua orang menyetujui pilihan kita. Ketenangan lahir ketika kita yakin telah berikhtiar dengan sebaik-baiknya, menjaga adab, menjalankan amanah, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Karena ridha manusia memiliki batas, sedangkan ridha Allah adalah tujuan yang abadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

zoom vs setrikaan

berdamai dengan diri dan keadaan

Salute to ...